Jakarta - Orang-orang mungkin seringkali mengalami
stres yang berkepanjangan atau stres kronis dalam menghadapi kehidupan
sehari-harinya. Saking seringnya stres kadang sudah tidak merasakan atau
mengabaikan gejala-gejala stresnya.
"Jika berada di bawah stres kronis, yaitu menderita serangan harian stres
dari pekerjaan atau kehidupan pribadi yang sedang dalam kekacauan, mungkin akan
menunjukkan gejala yang cukup biasa atau tidak parah. Jika mengalami tanda dan
gejala stres, luangkan waktu setiap hari untuk melakukan kegiatan yang
diinginkan, seperti pergi untuk berjalan-jalan," kata Stevan E. Hobfoll,
PhD, ketua departemen ilmu perilaku di Rush University Medical Center.
Berikut 10 tanda stres yang seringkali diabaikan
seperti dikutip dari FoxNewsHealth, Senin (9/1/2012) antara lain:
1. Migrain
"Sebuah penurunan mendadak dalam stres dapat memicu migrain. Dengan
mematuhi jadwal tidur dan jadwal makan dapat untuk meminimalkan faktor pemicu
migrain lainnya," kata Todd Schwedt, MD, direktur dari Headache Center
Universitas Washington.
2. Kram perut saat periode menstruasi
Perempuan yang mengalami stres dapat dua kali lebih mungkin mengalami kram
perut saat menstruasi yang menyakitkan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
ketidakseimbangan hormon yang diinduksi oleh stres.
3. Sakit rahang
"Rahang yang sakit dapat menjadi tanda kerot (miring) di malam hari
(bruxism). Bruxism biasanya terjadi selama tidur dan dapat diperburuk oleh
stres," kata Matthew Messina, DDS, dari American Dental Association.
4. Mimpi aneh
Mimpi biasanya mendapatkan progresif lebih positif saat tidur, sehingga akan
bangun dalam suasana hati yang lebih baik daripada saat akan pergi tidur.
Tetapi ketika sedang stres, maka akan bangun lebih sering. Sehingga mengganggu
proses tersebut dan memungkinkan gambaran mimpi yang tidak menyenangkan
berulang kali sepanjang malam.
"Kebiasaan tidur yang baik dapat membantu mencegah hal tersebut. Tidur
yang baik yaitu mencukupi waktu tidur selama 7-8 jam setiap malam, serta
menghindari kafein dan alkohol sebelum tidur," kata Rosalind Cartwright,
PhD, seorang profesor emeritus psikologi di Rush University Medical Center.
5. Perdarahan gusi
Menurut analisis dari 14 studi sebelumnya di Brazil, orang yang stres memiliki
risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit periodontal.
"Tingkat kronis peningkatan kortisol hormon stres dapat mengganggu sistem
kekebalan tubuh dan memungkinkan bakteri untuk menyerang gusi," kata
Preston Miller, DDS, dari American Academy of Periodontology.
6. Jerawat
"Stres dapat meningkatkan peradangan yang menyebabkan jerawat," kata
Gil Yosipovitch, MD, profesor dermatologi klinis di Wake Forest University.
7. Menginginkan cokelat dan lebih banyak makanan manis
Menginginkan cokelat dan lebih banyak makanan manis dapat dipicu oleh hormon
stres, yang bisanya terjadi pada wanita.
8. Kulit gatal
Sebuah studi baru di Jepang yang melibatkan lebih dari 2.000 orang menemukan
bahwa orang-orang yang mengalami mengalami gatal kronis (dikenal sebagai
pruritus) dua kali lebih mungkin mengalami stres.
"Meskipun masalah gatal yang cukup menjengkelkan juga dapat menimbulkan
stres, namun kemungkinan bahwa perasaan cemas atau tegang juga memperburuk
kondisi yang mendasarinya seperti dermatitis, eksim, dan psoriasis. Respons
stres dapat mengaktifkan serabut saraf, sehingga menyebabkan sensasi
gatal," kata Yosipovitch.
9. Alergi
Dalam sebuah penelitian di tahun 2008 oleh peneliti dari Ohio State University
College of Medicine menemukan bahwa, penderita alergi memiliki gejala lebih
parah setelah berada dalam kecemasan.
"Hormon stres dapat merangsang produksi IgE, protein darah yang
menyebabkan reaksi alergi," kata Janice Kiecolt Glaser, PhD.
10. Bellyaches (gangguan atau sakit perut)
Kecemasan dan stres dapat menyebabkan sakit perut, bersamaan dengan sakit
kepala, sakit punggung dan insomnia. Satu studi yang melibatkan 1.953 pria dan
wanita menemukan bahwa, mereka mengalami yang stres dengan tingkat tertinggi
lebih dari 3 kali lebih mungkin untuk mengalami sakit perut.
Hubungan yang tepat antara stres dan sakit perut masih belum jelas, tetapi satu
teori menyatakan bahwa usus dan berbagi jalur saraf otak, dapat bereaksi
terhadap stres. [detikSurabaya.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar